<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>suri-tauladan.com</title>
	<atom:link href="http://suritauladan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suritauladan.wordpress.com</link>
	<description>Setiap Orang adalah Guru, Setiap Peristiwa adalah Pelajaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Aug 2007 00:53:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='suritauladan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>suri-tauladan.com</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://suritauladan.wordpress.com/osd.xml" title="suri-tauladan.com" />
	<atom:link rel='hub' href='http://suritauladan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ujian Cinta dari Gegerkalong</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ujian-cinta-dari-gegerkalong/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ujian-cinta-dari-gegerkalong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 23:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ujian-cinta-dari-gegerkalong/</guid>
		<description><![CDATA[“Pak Herman, gimana nih, Pak?” Pak Suherman Rosyidi, dosen Fakultas Ekonomi Unair yang tetangga saya itu menoleh kepada asal suara. Dua orang sekretaris Dekan menegurnya di pintu masuk ruang itu. Keduanya perempuan. Seorang, sebut saja Bu A sudah memiliki 3 orang anak. Dan Bu B sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak. “Gimana apanya, Bu?” tanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=36&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/12/aa_1.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/12/aa_1.jpg" alt="" border="0"></a>“Pak Herman, gimana nih, Pak?”</p>
<p>Pak Suherman Rosyidi, dosen Fakultas Ekonomi Unair yang tetangga saya itu menoleh kepada asal suara. Dua orang sekretaris Dekan menegurnya di pintu masuk ruang itu. Keduanya perempuan. Seorang, sebut saja Bu A sudah memiliki 3 orang anak. Dan Bu B sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak.</p>
<p>“Gimana apanya, Bu?” tanya Pak Herman pada mereka.</p>
<p>“Gimana kok Aa’ Gym menikah lagi, Pak?” keluh Bu A. “Kenapa mesti <em>poligami</em>?”</p>
<p>Pak Herman tersenyum. Kalau ada masalah-masalah seperti ini, anggota Dewan Ekonomi Syariah itu memang biasa menjadi “jujugan”. Tempat bertanya atau mengadu. Beliau kemudian menghampiri kedua ibu muda itu.</p>
<p>“Begini, Bu,” kata Pak Herman. “Coba jawab pertanyaan saya dengan jujur dan ikhlas, dari hati nurani ibu yang paling dalam.”</p>
<p>“Apa itu, Pak?” sergah Bu B.</p>
<p>“Tolong pilih satu diantara dua,” kata Pak Herman berteka-teki. “Kalau ibu disuruh memilih, antara: merelakan suami ibu menikah lagi atau merelakan suami ibu melacur, ibu pilih yang mana?”</p>
<p>Kedua wanita itu terperanjat seperti mendapatkan pertanyaan yang tak pernah didengar sekalipun selama hidupnya.</p>
<p>”Kok pertanyaannya seperti itu, Pak?” protes Ibu A.</p>
<p>“Saya tak memilih dua-duanya, Pak!” tegas Ibu B.</p>
<p>“Ok. Ok,” potong Pak Herman. “Jikalau pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab, pertanyaannya saya ganti.”</p>
<p>“Diganti gimana, Pak?”</p>
<p>“Saya ganti begini,” lanjut Pak Herman. “Jikalau ada seorang istri diberikan pilihan &#8212; bukan Anda berdua, lho? &#8212; yaitu merelakan suaminya menikah lagi atau merelakan suaminya melacur, kira-kira istri itu milih yang mana?”</p>
<p>Kedua ibu itu saling berpandangan. Keraguan segera merayap dalam senyap. Pak Herman sendiri dengan sabar menunggu. Dan dalam sepuluh-lima belas detik kemudian, seseorang menjawab.</p>
<p>“Ya, pilih suami menikah lagi, Pak?” kata Bu A sambil melirik, mengharap dukungan Bu B di sebelahnya. “Bukan begitu, Bu?”</p>
<p>Bu B mengangguk-angguk. “Ya, gimana lagi kalau pilihannya hanya itu.”</p>
<p>“<em>Alhamdulillah</em>,” jawab Pak Herman. “Ibu-ibu ternyata masih bersih.”</p>
<p>“Masih bersih gimana, Pak?” tanya keduanya hampir berbarengan.</p>
<p>“Ibu-ibu masih bersih,” jelas dosen itu. “Masih bisa membedakan antara yang benar dan yang <em>bathil</em>. Antara yang halal dan yang haram.”</p>
<p>***</p>
<p>“Saya heran sama orang Indonesia, Pak Herman!” seru Bu Icy dengan logat Amerikanya yang tak bisa dihilangkan.</p>
<p>“Heran gimana, Bu?” tanya Pak Herman pada temannya yang sesama dosen itu. Sudah berbilang tahun wanita itu mengajar di kampus ini sejak ia menikah dengan orang Indonesia asli.</p>
<p>“Mengapa mereka menolak poligami yang nyata-nyata ada dan dibolehkan di dalam Islam?” tanyanya sungguh.</p>
<p>Pak Herman sejenak tersentak. Bagaimanapun yang ada di hadapannya itu adalah wanita Barat. Bukan muslimat lagi. Ia penganut Kristen. “Menurut Ibu, apa yang menyebabkan mereka seperti itu?”</p>
<p>“Masalahnya sudah jelas, Pak Herman. Kalian, orang Indonesia, sudah terkontaminasi dengan apa yang datang dari Barat.”</p>
<p>“Apa itu?”</p>
<p><em>“Kapitalisme</em>!”</p>
<p>“Kapitalisme?”</p>
<p>“Ya. Sebuah pandangan yang menganggap segala yang dipunya sebagai ‘milik’. <em>Suami saya adalah milik saya</em>. Bukan dan tak akan menjadi milik wanita lain. Tak logis dalam benak mereka untuk berbagi suami dengan orang lain. Itulah <em>ruh kapitalisme</em>, Pak.”</p>
<p>Pak Herman manggut-manggut. Tak dinyana, perempuan “barat” itu punya pendapat sedemikian. Ia memang telah banyak belajar tentang Islam, meski sayang belum memeluknya hingga sekarang.</p>
<p>“Sedangkan dalam pandangan Islam, semua yang ada ini ‘kan milik Tuhan?” lanjut wanita itu. “Sehingga, berbagi dalam Islam adalah sesuatu yang <em>common-sense</em>.”</p>
<p>Pak Herman kemudian bertanya, “Lantas menurut Ibu, apa masalahnya dengan penolakan poligami?”</p>
<p>“Masalahnya, Pak, ketika pintu poligami ditutup,” kata wanita asing itu, “maka pintu pelacuran akan terbuka lebar-lebar.”</p>
<p>***</p>
<p>Itulah pengantar perbincangan seputar poligami oleh Ust. Suherman Rosyidi – kami memanggil beliau Pak Herman &#8212; di Masjid Rungkut Jaya Ahad pagi ini. Agaknya fenomena heboh Aa’ Gym yang menikah lagi itu turut menghangatkan beranda masjid ini setelah diguyur hujan semalam.</p>
<p>“Kalau saya baca <em>press release</em> Aa’ Gym awal Desember lalu,” kata saya turut menanggapi, “sebenarnya ada 4 calon yang diajukan Aa’ Gym sebagai istri kedua. Satu, gadis. Kedua, janda tanpa anak. Ketiga, janda dengan cukup banyak anak. Dan keempat, nenek-nenek gampang masuk angin.”</p>
<p>Hadirin tersenyum. Saya berusaha menahan diri.</p>
<p>“Aa’ Gym sebenarnya sudah memilih yang ketiga, janda dengan cukup banyak anak,” kata saya melanjutkan. “Hanya saja, ia mantan model. Sebagaimana banyak laki-laki yang poligami, biasanya istri keduanya adalah seorang gadis, lebih muda dan cantik ketimbang istri pertama. Coba jika seandainya Aa’ Gym memilih calon yang keempat, pasti tidak akan terjadi kehebohan seperti ini, Pak!”</p>
<p>Gerr. Dan Ust. Herman pun tersenyum. “Tetapi, apa salahnya Aa’ Gym memilih janda dengan sekian anak?” tanyanya kepada hadirin seakan ingin mendapat jawaban. “Apa salahnya jika janda itu mantan model? Apa salahnya juga jika seandainya dia memilih seorang gadis sebagai istri kedua?”</p>
<p>“Bukankah Rasul setelah Khadijah meninggal mengambil Saudah, seorang janda yang sudah sangat tua umurnya, menjadi istri keduanya, Pak?” sergah saya.</p>
<p>“Apakah serta-merta kita harus mencontohnya demikian pula?” jawab Pak Herman. “Juga apakah kita harus menunggu istri pertama kita meninggal sebelum menikah lagi, sebagaimana Rasul baru menikah lagi setelah Khadijah meninggal?”</p>
<p>Saya termangu. Jamaah yang lain pun tepekur di tempat duduknya masing-masing.</p>
<p>“Tentu tidak,” lanjut Pak Herman. “Abu Bakar, Umar, Usman dan para sahabat yang lain tidak menunggu istri pertama mereka meninggal dulu untuk melakukan poligami.”</p>
<p>***</p>
<p>“Fenomena Aa’ Gym ini persis seperti peristiwa penyembelihan Ismail as oleh Nabi Ibrahim as,” simpul Pak Edy sambil menyelonjorkan kaki di beranda masjid. Ceramah shubuh oleh Pak Herman baru saja usai.</p>
<p>“Fenomena apa itu, Pak?” tanya saya.</p>
<p>“Ujian cinta!” katanya penuh misteri.</p>
<p>“Ujian cinta bagaimana?”</p>
<p>“Ya. Nabi Ibrahim diuji oleh Allah, mana yang lebih dicinta: Ismail, anak yang kelahirannya didambanya berpuluh tahun ataukah Allah SWT?”</p>
<p>Saya dan beberapa jamaah yang masih bertahan di beranda <em>manggut-manggut</em>.</p>
<p>“Demikian juga dengan poligami Aa’ Gym,” katanya melanjutkan. “Jika jamaah Aa’ Gym begitu saja meninggalkan pengajian MQ ketika tahu Aa’ menikah lagi, itu berarti mereka selama ini datang mendengarkan <em>taushiyah </em>hanya karena Aa’ Gym. Cinta mereka sebatas hanya kepada Aa’ Gym. Tak lebih. Cinta mereka bukan kecintaan yang tulus kepada Allah.”</p>
<p>“Betul juga, sampean. Lantas apa hubungannya dengan Nabi Ibrahim dan Ismail?”</p>
<p>“Peristiwa poligami Aa’ Gym ini seperti penyembelihan Ibrahim atas Ismail, yakni pemisahan antara yang benar-benar cinta kepada Allah dan yang sekadar cinta kepada manusia. Entah cinta kepada seorang anak. Ataukah cinta kepada seorang pendakwah.”</p>
<p>Saya setuju dengan tetangga saya itu. Saya juga sependapat dengan Ibu Sirikit Syah sebagaimana tulisannya di Jawa Pos 13 Desember 2006 yang lalu. Barangkali dengan peristiwa ini Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa Aa’ Gym bukanlah ‘dewa’. Justru karenanya Ia telah menyelamatkan kita dari “cinta yang salah”.</p>
<p>Dan di sisi lain, kita akan tersadarkan bahwa dai kondang itu ternyata manusia biasa seperti kita.</p>
<p><em>Wa Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>***</p>
<p>Surabaya, 18 Desember 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=36&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ujian-cinta-dari-gegerkalong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/12/aa_1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Yang Pertama Datang di Hari Fitri</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/yang-pertama-datang-di-hari-fitri/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/yang-pertama-datang-di-hari-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 23:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/yang-pertama-datang-di-hari-fitri/</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 18 Oktober 2006. Kring! Kring! Kolega dimana aku sering order komputer dan perlengkapan LAN (Local Area Network) menelepon. Sementara aku lagi bergegas setengah berlari ke ruang presentasi markas besar Cilangkap dimana kami satu tim harus berlaga dengan 5 tim lain untuk memenangkan sebuah tender terbuka. Lebaran tinggal 3-4 hari lagi. “Ya, Pak?” jawabku setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=35&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;width:200px;height:150px;margin:0 15px 15px 0;" src="http://www.andrastudio.com/wp-content/uploads/2006/10/idulfitri.jpg" alt="http://www.andrastudio.com/wp-content/uploads/2006/10/idulfitri.jpg" border="0">Rabu, 18 Oktober 2006.</p>
<p>Kring! Kring!</p>
<p>Kolega dimana aku sering order komputer dan perlengkapan LAN (<em>Local Area Network</em>) menelepon. Sementara aku lagi bergegas setengah berlari ke ruang presentasi markas besar Cilangkap dimana kami satu tim harus berlaga dengan 5 tim lain untuk memenangkan sebuah tender terbuka.</p>
<p>Lebaran tinggal 3-4 hari lagi.</p>
<p>“Ya, Pak?” jawabku setelah memencet tombol terima dan mempercepat langkah.</p>
<p>“Pak Bahtiar, sampean lagi di mana?” tanya temanku itu dari seberang sana.</p>
<p>“Aku lagi di Jakarta, Pak. Lagi nyelesaikan proyek di sini.”</p>
<p>“<em>Nek ngono</em>*, alamat sampean aja yang lengkap dimana Pak?”</p>
<p>Aku lalu menyebut alamat lengkap rumahku. Sekalian juga ancar-ancar bagaimana menuju ke sana.</p>
<p>Telpon pun kututup, tepat ketika aku harus menyerahkan HP di penjagaan gedung utama ini. Setelah itu, konsentrasiku penuh pada presentasi di depan sidang pejabat tinggi markas besar ini. Dan pembicaraan di telpon barusan langsung hilang dari ingatanku.</p>
<p>Sepulang dari sesi presentasi yang menegangkan sembari berbuka puasa di kawasan TMII, aku longok ada sebaris SMS di HP yang kutinggalkan di penjagaan tadi. Dari istriku.</p>
<p><em>Yang, dapat kiriman parcel dari teman sampean.</em></p>
<p>Kubalas.</p>
<p><em>Hah? Kirain korupsi ntar gimana?</em></p>
<p>Ia membalas.</p>
<p><em>Lho, sampean kan bukan pejabat publik <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Gpp, dong! Ini hadiah. Toh gak ada ikatan apa-apa.</em></p>
<p>Parcel menjelang lebaran. Dari kolegaku. Dan yang pasti, ia bukan seorang muslim.</p>
<p>***</p>
<p>Minggu, 22 Oktober 2006.</p>
<p>Panas terik. Matahari tepat di atas ubun-ubun. Padahal, antrian di dermaga Ujung Surabaya siang ini sungguh minta ampun panjangnya! Selepas zuhur tiba di tempat ini, mobilku masih harus antri sejauh lebih dari 1 km sebelum loket pembelian karcis! Ditambah dari radio kudengar informasi bahwa sepeda motor yang jumlahnya ribuan mendapatkan prioritas menyeberang lebih dulu, aku sudah membayangkan bakal berbuka puasa di atas kapal fery menjelang menyentuh bibir pantai Kamal Madura petang nanti.</p>
<p>Memang, lebaran tahun ini kami mulai dari rumah mertua di Bangkalan, baru ke Ponorogo. Dan pengalaman mengajarkan bahwa ritual antri di dermaga Ujung untuk menyeberang ke Pulau Madura yang jaraknya tak lebih dari 5,4 km itu serupa misteri. Kadang lancar. Tetapi seringkali antri berjam-jam meski di waktu yang sama.</p>
<p><em>Tulilit! Tulilit!</em></p>
<p>PDA pegangan dari kantorku berbunyi. Sebuah SMS masuk. Ah! Bukankah lebaran tinggal esok hari? Pasti alat elektronik itu akan mulai kebanjiran SMS ucapan selamat lebaran mulai saat ini.</p>
<p>Kubuka cover-nya. Dan kudapati di sana sebuah SMS berbunyi indah:</p>
<p><em>Bila ada langkah membekas lara. Ada kata merangkai dusta. Ada tingkah menoreh luka. Mohon dimaafkan segala kekhilafan. Selamat mencapai hari kemenangan. Henry &amp; Kel.</em></p>
<p>SMS itu dikirim oleh Pak Henry, kolegaku di Jakarta. Kami barusan bertemu tiga hari yang lalu di Cilangkap ketika suasana mudik sudah menghias jalan-jalan ibukota Jakarta saat itu.</p>
<p>Dan dia, setahuku, seorang Katolik yang taat.</p>
<p>***</p>
<p>Sabtu, 28 Oktober 2006. Hampir jam 9 malam.</p>
<p>Lelah. Capek. Seharian aku menyetir dari Ponorogo ke Surabaya di tengah arus mudik yang padat. Perjalanan lebih dari 200 km tanpa sopir pengganti tentu saja cukup menguras tenaga.</p>
<p>Rumah masih berantakan setelah kami tinggalkan tak kurang dari satu minggu. Kami baru saja menurunkan berbagai bawaan dari mobil: tas-tas baju, dua kotak mangga siap makan, keripik siap goreng, sebuntal besar baju kotor, sepatu anak-anak, tas ransel berisi laptop, tas berisi segepok buku yang nyata-nyata tak sempat kubaca, dan sampah makanan kreasi anak-anak selama perjalanan. Tiba-tiba pintu rumah diketuk orang.</p>
<p>“Kok sudah ada tamu?” masih dengan baju kaos perjalanan di badan, aku berbisik pada ibunya anak-anak. “Perasaan tetangga sebelah masih gelap-gelapan rumahnya. Paling belum pada pulang dari mudik.”</p>
<p>“Coba dilihat aja, siapa mereka, Mas?” jawab ibunya anak-anak. Azril masih menetek di pangkuannya.</p>
<p>Aku bergegas ke ruang tamu. Di sana, di balik pintu kasa ruang tamu yang sedikit terbuka, kulihat berjajar beberapa orang dengan senyum di bibir masing-masing.</p>
<p>Aku segera membuka pintu. Ternyata mereka tetangga kami satu RT satu jalan. Mereka tinggal sekitar 5-6 rumah dari rumahku. Aku bahkan hampir tak percaya ketika memperhatikan susunan mereka yang ternyata begitu lengkap: ibu yang tetanggaku itu, anaknya, menantunya, dan cucunya yang teman main Ais, anak pertamaku.</p>
<p>Belum sempat aku mempersilakan masuk, mereka sudah mengulurkan tangan.</p>
<p>“Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak Bahtiar. Mohon maaf lahir dan batin,” kata si ibu dengan senyum di kulum dan tangan siap bersalaman.</p>
<p>“Oh, mari silakan masuk, Bu,” seruku pada mereka. “Mohon maaf lahir dan batin juga.”</p>
<p>Anggota rombongannya juga menyampaikan ucapan yang serupa. Ketika kupersilakan untuk duduk di ruang tamu, mereka dengan halus menolak karena sudah malam. Akhirnya mereka pun berpamitan.</p>
<p>Aku lalu bergumam pada ibunya anak-anak. Lebaran pertama kali menginjak rumah sendiri. Tetapi menariknya yang pertama kali datang ke rumah dan mengucapkan tahniah Idul Fitri justru dari tetangga yang non muslim.</p>
<p>***</p>
<p>Ahad, 29 Oktober 2006. Ba’da Shubuh di Masjid Rungkut Jaya.</p>
<p>“Kalau lebaran di Palu gimana, Man?” tanya salah seorang jamaah kepada Firman yang asli Palu. Kami duduk melingkar setelah bersalam-salaman.</p>
<p>“Kalau di tempat saya, sehabis shalat Ied kita satu keluarga besar biasanya berkumpul di rumah salah seorang anggota keluarga. Dan lebaran di Palu identik dengan makan besar. Setiap rumah pasti menyediakan makan. Bukan makanan kecil seperti di sini!” jelas Firman menggebu-gebu.</p>
<p>“Wah, alamat kekenyangan dong!” sahut seorang hadirin.</p>
<p>“Ya. Tetapi, dengan adanya perbedaan Idul Fitri seperti sekarang ini, ada yang Senin, ada yang Selasa, ada hikmahnya juga,” kata pemuda itu.</p>
<p>“Apa hikmahnya?”</p>
<p>“Kami tidak terlalu kekenyangan makan,” katanya sambil tertawa. “Kami bisa bagi jadi dua hari makan besarnya.”</p>
<p>Kami semua tertawa.</p>
<p>“Tetapi, ada juga nggak enaknya,” potong Firman cepat-cepat.</p>
<p>“Apa itu?”</p>
<p>“Ketika kita menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri, eh, Saudara kita menyahut ‘Maaf ya, saya masih puasa. Saya lebarannya masih besok’.”</p>
<p>Semua tersenyum. “Kalau itu sih terjadi tak hanya di Palu, Fir. Tapi, hampir di semua tempat!”</p>
<p>***</p>
<p>Jika ada seorang non muslim mengucapkan tahniah Idul Fitri kepada kita, rasanya pasti kita terima tanpa komentar kecuali terima kasih; meski kita belum berlebaran pada saat itu. Dan mereka akhir-akhir ini memang gencar dalam program ini, termasuk memasang spanduk di tempat ibadah mereka yang berisi ucapan selamat menjalankan ibadah puasa dan juga merayakan Idul Fitri. Tetapi, ketika Saudara sesama muslim mengucap <em>tahniah</em>, kita tak membalas ucapan tahniah itu, malah menyampaikan kalau lebaran kita masih besok.</p>
<p>Barangkali kita sudah terlalu lama mendapatkan <em>cekokan </em>doktrin bahwa perbedaan itu rahmat dan berbeda itu adalah hal yang wajar. Hanya saja celakanya, hal itu kita praktekkan dalam segala hal, meski sering kurang tepat dan lucu jika didengar umat lain.</p>
<p><em>Wa Allahu a’lam</em></p>
<p>[]</p>
<p>PS. Untuk semuanya:</p>
<p><em>TaqabbalaLlahu Minna Waminkum<br />
Minal ‘Aidin Wal Faizin<br />
Mohon Maaf Lahir dan Batin</em></p>
<p>Surabaya, 20 Oktober 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=35&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/yang-pertama-datang-di-hari-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.andrastudio.com/wp-content/uploads/2006/10/idulfitri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">http://www.andrastudio.com/wp-content/uploads/2006/10/idulfitri.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memperhatikan Thukul Arwana</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/memperhatikan-thukul-arwana/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/memperhatikan-thukul-arwana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 23:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/memperhatikan-thukul-arwana/</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa, Tuhan mempertemukan saya dengan Thukul Arwana berkali-kali dalam sebulan terakhir ini. Bukan face-to-face, tetapi dalam banyak kesempatan, aku mau tidak mau melihat dan memperhatikan dirinya. Awal bulan lalu saya kira, saya satu pesawat dengannya dalam penerbangan dari Surabaya ke Jakarta. Ia memakai baju putih lengan panjang dan celana jeans. Berkaca mata hitam dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=34&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://photos.friendster.com/photos/21/10/33780112/36645488351002m.jpg" alt="" border="0">Entah mengapa, Tuhan mempertemukan saya dengan Thukul Arwana berkali-kali dalam sebulan terakhir ini. Bukan <em>face-to-face</em>, tetapi dalam banyak kesempatan, aku mau tidak mau melihat dan memperhatikan dirinya.</p>
<p>Awal bulan lalu saya kira, saya satu pesawat dengannya dalam penerbangan dari Surabaya ke Jakarta. Ia memakai baju putih lengan panjang dan celana jeans. Berkaca mata hitam dengan topi bundar di kepalanya. Dasar selebritis, banyak ibu-ibu yang mengejarnya, mengerubutinya, sekadar untuk berfoto bersama. Bahkan hingga saatnya naik tangga pesawat, mereka masih sempat-sempatnya menahan gerak langkah Thukul dan menyeretnya untuk berfoto bersama di tangga. Itu pun belum selesai. Ketika sudah duduk di seat-nya pun, Thukul masih dikerubuti ibu-ibu untuk keperluan yang sama. Satu catatan saya, ia, pelawak itu, meladeni permintaan itu dengan senang hati – dan tentu dengan segala tingkah-polahnya yang kocak, tanpa merasa terganggu. Mungkin ia sangat menyadari posisinya sebagai orang yang sudah sangat dikenal masyarakat, sehingga tak ingin mengecewakan mereka.</p>
<p>***</p>
<p>Awal puasa ini, saya juga melihat wajah jenakanya lagi. Mulut dan giginya itu lho yang tak bisa dilupakan! Kali ini muncul di sebuah Sinetron Hidayah Ramadan. Kalau tak salah bercerita tentang seorang tukang minyak yang bercita-cita menjadi pengusaha SPBU.</p>
<p>Ia, tentu, menjadi tokoh utama sinetron Ramadan itu. Sebagai seorang tukang minyak keliling, ia menjadi langganan ibu-ibu karena kebaikannya. Ia tak pernah mengoplos minyak dagangannya. Karena itu, ia menjadi saingan teman sesama tukang minyak, yang tentu saja terusik dengan kehadiran Shobirin, tokoh yang Thukul lakoni di sinetron itu. Banyak cara yang kemudian dilakukan orang itu untuk menyingkirkan Shobirin dari wilayah itu. Dari mulai mencampur minyaknya dengan air, menghasut masyarakat pembeli minyak, mencuri minyaknya, membocorkan drum penyimpanan minyak Shobirin, membakar rombongnya, hingga memukulinya.</p>
<p>Shobirin, sesuai namanya, tetap sabar menerima cobaan semua itu. Dan ada satu hal kebiasaannya yang menarik adalah: ia selalu berhenti di sebuah SPBU, meletakkan rombong minyaknya, menatap ke arah SPBU itu, dan berharap dalam doa. Ia ingin menjadi karyawan atau pengusaha SPBU. Setiap kali.</p>
<p>Tentu saja, alur cerita sinetron itu bisa ditebak sejak awal. Bahwa berkat kegigihannya, Shobirin akhirnya bisa tercapai cita-citanya.</p>
<p>Tetapi, bukan itu yang hendak saya sampaikan, melainkan bahwa ini adalah sebuah sinetron Ramadan, yang sedikit banyak penuh hikmah. Bukan menonjolkan keglamouran dan kemewahan sebagaimana halnya biasa. Dan Thukul terlibat di dalamnya.</p>
<p>Jika ada penonton yang tercerahkan dengan sinetron itu, bahwa kemudian ia bangkit dan berusaha sekuat tenaga memperbaiki hidupnya serta sabar sebagaimana Shobirin, bukankah ini sebuah kebaikan yang tak disadari? Bukankah ini dakwah dalam arti yang luas? Mungkin juga Thukul tak berpikir hingga ke sana.</p>
<p>***</p>
<p>Mas Thukul muncul lagi di televisi. Kali ini menemani kami menikmati makan sahur di warteg dekat Cempaka Emas ini. Ia ada di acara Stasiun Ramadan salah satu TV swasta. Berbaju kuning lengan panjang, berkaca mata hitam. Ia tentu saja, mengocok perut pemirsanya dengan segala polahnya. Kami tergelak dibuatnya dan ngantuk pun langsung sirna.</p>
<p>Menemani sahur. Aha! Satu hal yang mungkin tak pernah kita pikirkan, apalagi lakukan, selama hidup. Kalaupun pernah saya lakukan, itu hanya sekadar membangunkan orang dengan <em>thetheg </em>berkeliling kampung, dulu waktu masih SD/SMP. Kadang kalau pukulan kentongan kami terlalu <em>kenceng</em>, justru malah diusir orang. Apalagi kalau ketemu rombongan thetheg yang lain, biasanya kami <em>jor-joran</em> keras dan saling merusak irama.</p>
<p>Tetapi, menemani sahur orang senusantara?</p>
<p>Saya bisa membayangkan aktivitas Thukul di pagi itu. Ia akan keluar rumah, meninggalkan keluarganya, menuju studio di pagi buta ketika orang yang mau sahur pun belum bangun. Kemudian ia akan berdandan dan siap masuk panggung. Ketika <em>on-stage</em>, ia akan mengeksplorasi kemampuan dirinya dalam membawakan acara di pagi itu sebaik mungkin. Sesekali, di sela-sela jeda iklan, mungkin akan ia sempatkan untuk makan sahur secara kilat.</p>
<p>Ah, saya tak bisa membayangkan jika ia ikhlas menjalani semua itu. Ia juga hanya punya niat untuk menemani orang sahur. Betapa banyak kebaikan yang ia panen selama Ramadan karenanya?</p>
<p>Terus terang, saya iri.</p>
<p>Semoga Mas Thukul Arwana membaca tulisan ini. Siapa tahu ia mau sedikit menata niatnya. Dan meninggalkan &#8220;sinetron tengah malam&#8221; yang pernah dilakoninya untuk selamanya.</p>
<p>***</p>
<p>Ket.<br />
<em>Thetheg </em>(jawa): berkeliling kampung dengan membunyikan alat musik sederhana untuk membangunkan orang agar segera sahur.</p>
<p>Surabaya, 9 Oktober 2006.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=34&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/memperhatikan-thukul-arwana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos.friendster.com/photos/21/10/33780112/36645488351002m.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Merdeka Dari Fulan</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/belajar-merdeka-dari-fulan/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/belajar-merdeka-dari-fulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 23:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/belajar-merdeka-dari-fulan/</guid>
		<description><![CDATA[Nama pemberian orang tuanya ada kaitannya dengan syurga. Aku ingin menyebutkannya di sini. Tetapi, ia hanya mengijinkan menulisnya sebagai Si Fulan. Begitu saja. Apa boleh buat. Aku lebih mengenalnya ketika bergabung di kantor ini tiga belas tahun yang lalu. Ia lebih dulu bergabung. Aku termasuk kloter berikutnya. Tetapi sebenarnya kami satu almamater. Dia kakak angkatanku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=33&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;width:200px;height:150px;margin:0 15px 15px 0;" src="http://users.skynet.be/network.indonesia/images/culture/history/proklamasi.jpg" alt="" border="0">Nama pemberian orang tuanya ada kaitannya dengan syurga. Aku ingin menyebutkannya di sini. Tetapi, ia hanya mengijinkan menulisnya sebagai Si Fulan. Begitu saja. Apa boleh buat.</p>
<p>Aku lebih mengenalnya ketika bergabung di kantor ini tiga belas tahun yang lalu. Ia lebih dulu bergabung. Aku termasuk kloter berikutnya. Tetapi sebenarnya kami satu almamater. Dia kakak angkatanku.</p>
<p>Fulan seorang yang sederhana dengan pemikiran yang sederhana. Mungkin kalimat inilah yang bisa kurangkai untuk menggambarkan personality dirinya. Simple. Dan hal itu tidak saja tercermin dalam kehidupan sosialnya, tetapi juga dalam baris-baris kode program aplikasi yang menjadi tanggungjawabnya. Saking sederhananya, persoalan yang seharusnya rumit sering dikerjakannya secara<em> by-pass</em>, sehingga kadang malah terlalu <em>simple</em>. Kami bahkan sempat menganggapnya “terlalu menggampangkan persoalan”. Sementara ia menyebutnya sebagai upaya “menyederhanakan persoalan.”</p>
<p>Tetapi itulah Fulan. Sederhana. Dan kesederhanaannya juga tercermin pada Tugas Akhir yang dikerjakannya, yang berusaha menyelesaikan problem <em>scheduling </em>awak kabin pesawat yang rumit dengan aplikasi scheduling yang simple.</p>
<p>Ia pasti tak akan mau dibebani dengan <em>assignment </em>yang membuatnya harus berlembur-lembur ria. Ia keberatan diberi pekerjaan yang dirasa terlalu berat. Ia akan menolaknya seketika; satu hal yang rasanya takkan bisa dilakukan oleh karyawan lainnya – dan tentu saja sebenarnya membuat kami iri. Ia sepertinya ingin menjalani hidup ini easy-going saja. Tetapi jawabannya ketika kutanya tentang soal ini sungguh dalam: semua punya hak. Perusahaan, teman, keluarga, tetangga, klien. Juga jiwa dan raga kita.</p>
<p>Namun demikian, ia ramah. Supel kurasa. Banyak kawan. Pria dan wanita. Banyak diantaranya menjadi kawan dekat.</p>
<p>Tetapi semua kesederhanaan itu tiba-tiba berakhir pada suatu hari.</p>
<p>Ia jadi berubah. Drastis. Ia rajin ke masjid pada jam-jam shalat tiba. Ia tak lupa mengajak kami serta. Ia tak lagi membonceng seorang gadis. Kudengar semua hubungan khusus dengan mereka juga telah putus atau diputusnya. Aku tak tahu kepada siapa ia berguru, tetapi kulihat ia rajin mengkaji ilmu agama. Begitu mendapatkan sebuah hadits, ia memegangnya seperti memegang bara api. Haram, ya haram. Titik. Jangankan demikian. Undangan <em>aqiqah </em>saja jika diadakan tidak pada hari ke-7 setelah kelahiran bayi jangan harap akan dihadirinya.</p>
<p>Ia berubah dari yang sederhana, kurasa telah menjadi semakin lebih sederhana lagi.</p>
<p>Perubahan drastis itu mencapai puncaknya ketika sebuah undangan sederhana yang tak disangka-sangka datang darinya. Ia akan menikah di desanya. Dengan seorang yang tak pernah dikenalnya kecuali satu kali saja! Dengan seorang gadis yang diperantarai keluarganya.</p>
<p>Ketika kami memenuhi undangan itu, ia hanya memasang dua tenda sederhana di depan rumah orang tuanya. Berhijab, terpisah antara tamu pria dan wanita. Saking sederhananya, para tamu nyaris tak tahu siapa mempelai prianya. Fulan, temanku itu, kulihat berdandan sebagaimana biasa dan berbaur dengan para tamu laki-lakinya.</p>
<p>Dan sampai dengan pulang, kami tak tahu siapa mempelai wanitanya kecuali sekadar namanya saja.</p>
<p>***</p>
<p>Ketika kami berpisah kantor &#8212; ia ditempatkan pada anak perusahaan yang berbeda &#8212; kesederhanaannya tak berubah sedikitpun. Aku pernah silaturahmi ke rumahnya di sebuah kampung. Rumah yang sangat sederhana di sebuah gang yang ramai. Ia memang tak berniat mengambil KPR karena alergi dengan bunga bank. Ia tak ingin terikat dengan tanggungan cicilan tiap bulan. Padahal ia manajer produksi di anak perusahaan itu. Jadilah ia membeli sebuah rumah seharga uang cash yang ia punya.</p>
<p>Ia pun menolak mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di perusahaan, tetapi dengan tanggung jawab lebih intens berinteraksi dengan klien dalam urusan non-teknis. Ia amat benci dengan mark-up, menaikkan harga barang secara tak wajar. Bahkan kedudukannya sebagai manajer produksi rupanya tak juga membuatnya nyaman. Maka begitulah, betapa aku terkejut ketika akhirnya ia memutuskan keluar dari perusahaan.</p>
<p>“Mengapa keluar, Mas?” tanya seorang teman.</p>
<p>“Aku khawatir, gaji yang kuterima mengandung uang yang <em>syubhat</em>,” jawabnya. “Aku tak ingin keluargaku makan dari uang yang tak jelas.”</p>
<p>“Kok <em>syubhat</em>?”</p>
<p>“Bukankah klien kita beragam? Ada yang swasta maupun pemerintah. Mengerjakan proyek di instansi pemerintah atau BUMN sarat dengan proses berbau KKN, bukan? Kita kadang harus mengeluarkan uang yang bukan pada tempatnya. Sering kita harus menghargai sebuah barang atau pekerjaan di luar batas kewajaran. <em>Mark-up</em>.”</p>
<p>“Kalau terpaksa atau kita dalam keadaan dizalimi gimana?”</p>
<p>“Emang tak ada proyek di tempat lain?”</p>
<p>Begitulah ia akhirnya meninggalkan perusahaan itu. Meletakkan jabatannya yang cukup prestise. Melepaskan gaji dan tunjangannya yang relatif tinggi berikut asuransi jiwa dan kesehatan yang ditanggung perusahaan. Menyerahkan mobil dinasnya yang berbensin kantor. Kehilangan <em>deviden </em>dan bonus tahunan. Bahkan ia pun menolak bagian saham perusahaan yang ditawarkan kepadanya asal ia tetap bertahan.</p>
<p>Ia akhirnya bekerja sebagai <em>programmer </em>paruh-waktu di rumah. Ia mengerjakan pesanan program dari perusahaan Amerika, yang didapatnya dari internet. Juga program-program sederhana pesanan perusahaan lokal. Dan ia hanya menerima pesanan yang bisa dikerjakan dengan mudah di rumah, tak menuntut lembur, tak mengganggu waktu ibadah dan silaturahminya di hari Sabtu dan Minggu.</p>
<p>Tetapi rupanya itu pun tak berlangsung lama. Mungkin batasan yang ia tetapkan telah terlanggar pula. Kudengar kemudian ia beralih menjadi pengusaha es krim di depan sekolah dekat rumahnya di Brebek. Sebuah usaha yang bisa ia tutup dan buka kapan saja ia mau. Namun, belum sempat aku mampir ke warung es krimnya, beberapa waktu lalu, ia mengirimiku SMS dan memberitahu bahwa ia kini berjualan es krim di depan sebuah sekolah di Kertosono, kota tempat ia lahir dan dibesarkan. Ia mempekerjakan dua orang karyawan. Ia sendiri menjadi kasir.</p>
<p>Dan inilah yang membuatku iri: jika tak sedang melayani pelanggan, ia berselancar di internet, melanglang buana.</p>
<p>***</p>
<p>Kemerdekaan begitu sederhana didefinisikan, tetapi rumit untuk dicapai dan dirasai. Jika merdeka berarti lepas dari sebuah belenggu, maka selama kita terbelenggu, berarti kita belum sepenuhnya merdeka. Dan belenggu itu, pada kenyataannya, ternyata bukan melulu penjajahan atas sebuah bangsa.</p>
<p>Tak terasa kita hidup dalam “belenggu” ini: pekerjaan, jabatan, masalah. Mungkin mertua, wanita, istri. Bahkan anak-anak! Ketika kita merasa tertekan karena mereka atau merasa terbebani dengan mereka, saat itu kita belum sepenuhnya merdeka.</p>
<p>Ironisnya, atas nama keterpaksaan, kita rela untuk tak merdeka, mengenakan belenggu dan merantai diri sendiri. Kita tak pernah berontak ketika rasa kemerdekaan kita terenggut. Dan pelajaran tentang kemerdekaan inilah yang kudapat dari Fulan itu. Ia berani melepas belenggu dan keluar dari kungkungan, menceburkan diri di antara samudera kehidupan sebagai diri sendiri.</p>
<p>Inilah katanya tentang kemerdekaan. “Mengenai kemerdekaan, menurutku sih merdeka itu dilekatkan pada akal. Ada tiga hal yang mendasari perbuatan seseorang: pertama akalnya, kedua keinginannya, dan ketiga keinginan orang lain. Kalau seseorang berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu karena akalnya berarti dia merdeka. Kalau dia berbuat sesuatu karena keinginannya atau keinginan orang lain berarti dia terbelenggu.”</p>
<p>Merdeka. Untuk mendapatkannya memang harus berani berkorban. Harus berani lepas dari belenggu, yang kadang kita nyaman di dalamnya. Dan salah satu yang berani itu adalah Fulan yang kuceritakan ini. Karena itu, barangkali, ketika memberikan komentar atau nasihat, ia merdeka pula. Tanpa <em>tedheng aling-aling</em>.</p>
<p>Mungkin karena itulah, ketika aku bicara soal doa yang tak segera dikabulkan, ia dengan lugas dan simple menjawab, “Mungkin makanan yang kamu makan masih <em>syubhat</em>?”</p>
<p>Aku tertohok. Jangan-jangan &#8230; ia benar?</p>
<p>***</p>
<p>Surabaya, tanggal 14 Oktober 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=33&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/belajar-merdeka-dari-fulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://users.skynet.be/network.indonesia/images/culture/history/proklamasi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Doa Yang Dijawab Seketika</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/doa-yang-dijawab-seketika/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/doa-yang-dijawab-seketika/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 15:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/doa-yang-dijawab-seketika/</guid>
		<description><![CDATA[Di sini, suatu hari jum&#8217;at di masjid ini, persis di atas tempatku berpijak kini, lima belas tahun silam &#8230;. Dua hari sudah perut tak terisi. Lapar melilit. Lemas rasanya. Lunglai. Kulit pun serasa lepas dari tulangnya. Ketika berjalan, kedua kaki seperti tak lagi kuat menahan beban tubuh yang lain. Terhuyung. Cenderung pening. Sesekali dunia seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=32&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;width:150px;height:220px;margin:0 15px 15px 0;" src="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Jakarta/doa.jpg" alt="" border="0">Di sini, suatu hari jum&#8217;at di masjid ini, persis di atas tempatku berpijak kini, lima belas tahun silam &#8230;.</p>
<p>Dua hari sudah perut tak terisi. Lapar melilit. Lemas rasanya. Lunglai. Kulit pun serasa lepas dari tulangnya. Ketika berjalan, kedua kaki seperti tak lagi kuat menahan beban tubuh yang lain. Terhuyung. Cenderung pening. Sesekali dunia seperti berputar.</p>
<p>Segala upaya rasanya telah kucoba. Tetapi, nihil. Bagaimanapun, aku hanyalah mahasiswa ingusan yang baru menginjak semester tiga di kampus ini. Bagaimanapun, dua semester pertama adalah masa penyesuaian diri yang luar biasa bagiku. Semestinya aku lebih berkonsentrasi di kampus. Kuliah. Karena jika tidak fokus, dua semester pertama adalah masa kritis, yang jika tidak lulus dengan nilai minimal, DO mengancam.</p>
<p>Namun, sejak semester dua sudah kuputuskan untuk tidak membebani orang tua lebih berat lagi. Biarlah mereka memikirkan ke-8 adikku yang lain, yang juga masih bersekolah. Biarlah aku menghidupi diriku sendiri di Surabaya ini. Akhirnya aku harus bergerak, bekerja, agar bisa kuliah. Tak kurang jualan tiket seminar, mengajar komputer anak-anak SMP, dan mengajar kursus komputer di kampus sudah pernah aku lakukan. Juga membantu mengetik skripsi, membuat program kecil-kecilan. Dan begitulah yang terjadi; akhir semester dua aku dikeluarkan dari Asrama Mahasiswa karena menunggak biaya sewa hingga 3 bulan lamanya.</p>
<p>Akhirnya aku <em>nebeng </em>tinggal di lab komputer jurusanku. Tak bayar sepeserpun. Tapi aku harus tidur di kolong meja komputer, atau di atas kursi berjajar. Seringkali sendirian. Jangan tanya lagi soal mandi, cuci, jemur pakaian.</p>
<p>Dan dua hari telah berselang. Tak sepotong makanan pun masuk ke perutku. Dan aku tak tahu lagi, apa yang bisa kuperbuat untuk mendapatkan sedikit uang untuk mengisi perut. Meminta bantuan teman, mungkin bisa kulakukan. Tapi, aku tak punya sedikit keberanian.</p>
<p>Maka, selepas salat jum&#8217;at, dalam sebuah sujud salat sunah aku bermohon dengan permohonan yang panjang dan lugas, “Ya, Allah. Dua hari hambamu belum menyentuh nasi. Dua hari hambamu bertahan dan rasanya tak kuat lagi. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya kepada-Mu aku bermohon. Berikanlah jalan untuk mendapatkan sedikit dari rizqi-Mu untuk meneruskan hidup ini. Secepat mungkin, Ya Allah. Secepat mungkin.”</p>
<p>Ketika kemudian bangkit dari sujud dan salam, rasanya aku mendengar sebuah panggilan. Panggilan pada diriku.</p>
<p>“Bahtiar!”</p>
<p>Aku menoleh. Terlihat Mas Iwan Syarif, kakak angkatanku di jurusan, mendekatiku dari arah belakang.</p>
<p>“Ya, Mas,” jawabku.</p>
<p>“Kamu bisa bantu temanku mengetik skripsinya? Nggak banyak kok. Paling 70 halaman saja.”</p>
<p>“Ya, Mas!” jawabku seketika. “Bisa! Mana naskahnya?”</p>
<p>Mas Iwan segera mengulurkan segepok tulisan tangan, beberapa rumus, dan gambar-gambar. Aku menerimanya dengan tangan gemetaran.</p>
<p>“Besok insya Allah sudah selesai, Mas.”</p>
<p>Aku langsung tersungkur. Tangisku tak tertahan lagi. Betapa doaku langsung dijawab-Nya. Kontan. Seketika!</p>
<p>***</p>
<p>Tiga orang pemuda sedang bepergian. Mereka tertahan oleh hujan dan berlindung di dalam gua di sebuah gunung. Sebongkah besar batu tiba-tiba jatuh menutupi mulut gua tersebut. Mereka berkata satu sama lain. &#8220;Pikirkanlah kebaikan yang pernah engkau lakukan di jalan Allah dan berdo&#8217;alah kepada-Nya dengan kebaikan itu agar Allah membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi.&#8221;</p>
<p>Pemuda yang pertama pun melantun do&#8217;a, &#8220;Ya Allah! Aku memiliki orangtua yang telah renta. Aku juga memiliki anak-anak yang masih kecil. Aku memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orangtuaku terlebih dulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput (bagi domba-dombaku), dan tidak kembali ke rumah hingga larut malam. Aku menemukan kedua orangtuaku sudah terlelap. Aku lalu mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka. Aku tak ingin membangunkan mereka dari tidurnya. Aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orangtuaku, meski anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku. Maka keadaanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolong bukakan sebuah lubang agar kami dapat melihat langit.&#8221;</p>
<p>Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.</p>
<p>Kemudian pemuda yang kedua berdo&#8217;a, “Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah seorang pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak kecuali aku membayarnya sebanyak seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk di antara kedua kakinya, ia berkata: &#8216;Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)!&#8217; Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi Engkau semata, maka biarkanlah batu itu bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar.</p>
<p>Maka Allah menggeser batu tersebut hingga terbuka lubang yang lebih besar.</p>
<p>Dan pemuda yang ketiga berkata, &#8220;Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu faraq beras. Ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah. Namun ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga hasil produksi, beberapa ekor sapi dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata: &#8216;Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku.&#8217; Aku berkata padanya: &#8216;Pergilah dan ambillah sapi-sapi itu beserta gembalanya.&#8217; Maka ia pun mengambilnya dan pergi. Maka, Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari batu tersebut.&#8221;</p>
<p>Maka Allah menggeser lagi batu itu hingga mereka bisa bebas keluar dari gua tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Hari ini, Jum&#8217;at, di atas tempatku berpijak yang sama, di masjid yang sama ini, lima belas tahun kemudian &#8230;</p>
<p>Aku mengenang hari itu. Aku mengenang detik yang menggetarkan dalam perjalanan hidupku itu. Sebuah momen, yang rasanya saat itu Dia begitu dekat denganku. Begitu terasa.</p>
<p>Air mataku berlinangan. Menetes perlahan di sela khutbah Jum&#8217;at Pak Daniel M. Rosyid di mimbar depan. Bukan karena Dia serasa begitu dekat denganku, sedekat dulu. Namun justru, rasanya kini akulah yang semakin jauh dari-Nya.</p>
<p>Hingga kini, aku belum pernah bisa mengulang do&#8217;a sebagaimana lima belas tahun yang lalu itu. Tak seperti ketiga pemuda di dalam goa itu, barangkali hingga kini aku tak memiliki barang sedikit simpanan kebaikan untuk sekadar bisa mengetuk pintu-Nya.</p>
<p>***</p>
<p>Mengenang kembali kejadian 15 tahun yang lalu, di Masjid Manarul Ilmi ITS<br />
Ramadan 1427H hari ke-6.</p>
<p>Surabaya, 4 Oktober 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=32&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/doa-yang-dijawab-seketika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Jakarta/doa.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki Paling Responsif</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/lelaki-paling-responsif/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/lelaki-paling-responsif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 15:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kedermawanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/lelaki-paling-responsif/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali bertemu dengan lelaki ini, selalu saja aku teringat dengan segala yang telah ia lakukan untukku. Untuk kami, keluargaku. Dan satu kalimat yang mewakili dirinya adalah: ia lelaki paling responsif yang pernah kukenal. Ketika awal-awal menikah, aku belum sempat mencari rumah kontrakan di Malang buat keluarga baru kami. Aku sendiri bertempat kerja di Surabaya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=30&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://suritauladan.files.wordpress.com/2007/07/ayahibu.jpg?w=500" alt="" border="0">Setiap kali bertemu dengan lelaki ini, selalu saja aku teringat dengan segala yang telah ia lakukan untukku. Untuk kami, keluargaku. Dan satu kalimat yang mewakili dirinya adalah: ia lelaki paling responsif yang pernah kukenal.</p>
<p>Ketika awal-awal menikah, aku belum sempat mencari rumah kontrakan di Malang buat keluarga baru kami. Aku sendiri bertempat kerja di Surabaya. Paling seminggu sekali pulang ke Malang. Belum lagi aku masih sering ditugaskan keluar kota – Banjarmasin, Balikpapan, Tarakan, Solok, Aceh – sampai-sampai aku menduga tempatku bekerja tak mau tahu kalau aku masih pengantin baru <em>fresh from the oven</em>.</p>
<p>Ketika pulang dari Banjarmasin, setelah bertugas dua minggu, sebuah rumah kontrakan yang cukup layak di belakang Rumah Sakit Syaiful Anwar sudah tersedia buat kami. Lelaki itulah yang mengeluarkan duit dari koceknya untuk <em>nalangi </em>biaya sewa selama dua tahun. Lima juta rupiah! Bersama dengan istrinya, ia bersepeda motor dari Bangkalan ke Malang hanya untuk membantu mencarikan tempat bernaung buat kami, bertanya dari rumah ke rumah, dan akhirnya mendapatkan rumah kontrakan itu.</p>
<p>“Sudahlah. Bahtiar bisa kembalikan kapan saja jika sudah punya,” katanya. “Daripada berganti-ganti penginapan, lebih baik biayanya untuk sewa rumah, kan?”</p>
<p>Aku masih ingat: duit itu kukembalikan lebih dari enam bulan kemudian. Itu pun dengan mengangsur.</p>
<p>***</p>
<p>Aku pernah mendapat kecelakaan di daerah Blimbing Malang; ditabrak dari belakang oleh seseorang dengan sangat kerasnya. Mobil kantor yang kukendarai akhirnya terloncat ke depan dan menabrak mobil lain di depanku. Mobil kantorku itu ringsek depan-belakang. Radiatornya bahkan pecah, sehingga tak bisa berfungsi lagi.</p>
<p>Aku terpaksa berurusan dengan penabrak itu ke rumahnya. Tetapi, <em>mbuletnya </em>minta ampun! Ia berbicara <em>ngelantur ngalor-ngidul</em>. Ia mengaku memiliki banyak teman di kepolisian Malang. Alih-alih mau menanggung biaya perbaikan mobilku, ia hanya mau menanggung perbaikan <em>body </em>depan-belakang saja yang tak seberapa.</p>
<p>Ketika kemudian berita itu sampai ke telinganya, lelaki itu telah berada di depan pintu kontrakan kami esok paginya. Dialah yang membantu aku menyelesaikan persoalan dengan penabrak mbulet itu. Dan dengan gaya Maduranya, akhirnya mobil itu diperbaiki atas tanggungan penabrak itu sepenuhnya.</p>
<p>Ketika kami boyongan ke Surabaya, lelaki itulah yang mencarikan <em>pick-up</em> untuk membawa barang-barang, bahkan rela menjadi <em>keneknya</em>. Ketika adikku yang kuliah di Malang sakit sendirian di kamar kosnya, dia pula yang – kebetulan sedang di Malang &#8212; mengantarkannya pulang ke rumah orang tuaku di Ponorogo. Ketika anak kedua kami lahir di Malang, dia dan istrinyalah yang pertama kali tiba di rumah; meski mereka tinggal di seberang laut. Dan tak terhitung berapa kali lelaki itu mencarikan pembantu rumah tangga di rumah kami, silih berganti. Ia bahkan mencarikan <em>rewang </em>itu hingga ke pelosok desa di daerah Sampang, Madura; dan membawanya ke Malang. Setiap lebaran tiba, ia pula yang mengantar dan menjemput rewang itu ke tempatnya. Pernah suatu kali aku mengantar mereka bersamanya. Setelah menjelajah jalan-jalan desa, mobil kami harus parkir di pinggir sawah, untuk kemudian berjalan kaki beberapa ratus meter melewati pematang dan pinggiran dangau untuk kemudian sampai ke rumah rewang kami.</p>
<p>Rasanya tak terhitung lagi lelaki itu hadir di sisi kami, menyingsingkan lengan bajunya membantu kami. Dan nyaris ia selalu menjadi yang pertama.</p>
<p>***</p>
<p>Hari ini, lelaki itu datang lagi. Ini semua karena ibunya anak-anak meneleponnya sehabis shubuh dan menyampaikan kabar bahwa rumah kami baru saja kemalingan. Nampaknya si Maling lewat ruang terbuka di lantai atas.</p>
<p>“Apa kata saya, Bahtiar,” kata lelaki itu membuka percakapan di tempat kejadian perkara. “Dulu kan sudah saya bilang, ruang terbuka ini harus ditutup pakai <em>teralis</em>, agar tidak dimasuki orang. Genteng rumah Bahtiar ini sangat mudah buat jalan orang, lalu meloncat melalui ruang terbuka ini, dan masuk ke rumah.”</p>
<p>Aku hanya bisa mengiyakan diiringi rasa bersalah. Lantas bagaimana lagi? Maling-maling itu sudah masuk ke rumah ini tanpa ada yang tahu dan mengambil tanpa merusak apa-apa. HP, kamera digital, perhiasan anak-anak, dan sejumlah uang pun raib. Cukup besar juga bagi kantong karyawan seperti diriku.</p>
<p>“Masih untung kalian tidur semua,” lanjutnya. “Coba kalau ada yang memergoki maling itu? Maling sekarang tak pandang bulu, Bahtiar.”</p>
<p>Ya, aku sangat bersyukur karena tak ada gangguan apapun terhadap kami sekeluarga. Semua terlelap saat mereka beraksi.</p>
<p>Sore harinya, ia sudah mengundang orang bengkel besi dan memasang teralis untuk menutup ruang terbuka itu. Tak hanya itu saja. Ia juga memesan teralis di dekat rumah Bangkalan untuk dua jendela kamar kami di lantai atas yang rawan dimasuki orang. Dan aku tak boleh mengeluarkan duit sepeserpun!</p>
<p>Dan malam itu, dua hari menjelang Ramadan tiba, ia membawa kedua teralis besi selebar daun jendela itu dalam pangkuan, di belakang boncengan sepeda motor istrinya, melintasi Selat Madura dan jalanan Surabaya hingga sampai ke rumah. Aku tak boleh mengambilnya sendiri di Bangkalan.</p>
<p>Padahal, lelaki itu sungguh berbeda dibanding enam tahun yang lalu. Matanya kini sudah rabun dan tak bisa melihat jelas lagi. Tiga jari kaki kanannya sudah dipotong setahun yang lalu karena <em>gangren </em>yang membusuk dan tak kunjung sembuh. Wajahnya cenderung memucat seperti tak teraliri darah. Ia mengidap diabetes karena keturunan keluarga. Ibu dan saudara-saudaranya rata-rata meninggal setelah luka di tubuh mereka tak tertaklukkan.</p>
<p>Aku tak bisa membayangkan, bagaimana halnya jika kondisinya lagi drop dan teralis besi itu menggores kulitnya dalam perjalanan?</p>
<p>Setiap kali kuingatkan akan hal itu, untuk mengurangi aktivitasnya, ia selalu menjawab, “Saya tidak apa-apa, Bahtiar. Saya masih kuat. Justru dengan begini penyakit saya sembuh.”</p>
<p>Ia sudah melemah fisiknya dalam banyak hal kini. Tetapi, ia masih saja menjadi orang pertama yang datang mengulurkan tangan pada kami, tanpa bisa kucegah. Lelaki itu tak lain adalah ayah istriku. Mertuaku. Kakek anak-anakku.</p>
<p>Setiap kali <em>futur </em>dan terasa bergerak lamban, aku akan teringat selalu padanya.</p>
<p>***</p>
<p>Surabaya, 1 Oktober 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=30&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/lelaki-paling-responsif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suritauladan.files.wordpress.com/2007/07/ayahibu.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sambutan Terbaik Buat Kekasih</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/sambutan-terbaik-buat-kekasih/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/sambutan-terbaik-buat-kekasih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 00:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/sambutan-terbaik-buat-kekasih/</guid>
		<description><![CDATA[Kring! Kring! Telepon segera kuangkat. “Halo?” “Assalaamu&#8217;alaikum!” suara menyahut di seberang. “&#8217;Alaikum salaam warahmatullah,” kurasa aku mengenali suara itu. “Dari siapa, ya?” “Saya Rofi&#8217;i, Mas Bah,” jawab laki-laki itu, tepat seperti dugaanku. “O, ya ustadz. Ada yang bisa saya bantu?” “Nggak. Saya cuma ingin nanya ke istri antum. Ada beliaunya?” “Oh, lagi belanja di warung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=29&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;width:150px;height:200px;margin:0 15px 15px 0;" src="http://karachi.metblogs.com/archives/images/2006/09/ramadan-praying.jpg" alt="" border="0">Kring! Kring!</p>
<p>Telepon segera kuangkat. “Halo?”</p>
<p>“Assalaamu&#8217;alaikum!” suara menyahut di seberang.</p>
<p>“&#8217;Alaikum salaam warahmatullah,” kurasa aku mengenali suara itu. “Dari siapa, ya?”</p>
<p>“Saya Rofi&#8217;i, Mas Bah,” jawab laki-laki itu, tepat seperti dugaanku.</p>
<p>“O, ya ustadz. Ada yang bisa saya bantu?”</p>
<p>“Nggak. Saya cuma ingin nanya ke istri antum. Ada beliaunya?”</p>
<p>“Oh, lagi belanja di warung sebelah ustadz.”</p>
<p>“Kalau gitu, nanti saja saya telpon lagi. Soal buku itu lho Mas!”</p>
<p>“Oh, ya nanti saya sampaikan ustadz.”</p>
<p>***</p>
<p>“Tadi ustadz Rafi&#8217;i sudah telpon,” kata istriku sambil menyiapkan makan sahur. Besok adalah hari pertama puasa.</p>
<p>“Oh, ya?” jawabku. “Tentang apa? Buku itu ya?”</p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, istriku pernah menitip sejumlah uang kepada Ustadz Rofi&#8217;i. Ia memesan buku yang diceritakan ustadz itu dan tertarik memilikinya. Namun, buku itu tak kunjung ada kabar; hingga kemudian ustadz Rofi&#8217;i diingatkan seseorang. Barulah beliau teringat akan amanah yang belum ditunaikan itu, namun lupa buku apa yang dipesan. Istriku juga sudah lupa. Akhirnya, beliau menyerahkan beberapa buku untuk dipilih. Istriku pun dalam beberapa lama belum memilih buku mana yang ia kehendaki, karena ada beberapa buku yang dititipkan ustadz melalui seseorang belum juga sampai ke tangannya. Akhirnya buku itu baru diterimanya menjelang Ramadan ini.</p>
<p>“Ya, tentang buku-buku itu,” istriku menyahut, sementara tangannya menata piring di atas meja makan. “Cuma aku nggak enak aja.”</p>
<p>Aku menoleh padanya. “Lho, emangnya kenapa?”</p>
<p>“Aku sempat menyangka yang bukan-bukan sama ustadz.”</p>
<p>“Yang bukan-bukan, gimana?”</p>
<p>“Ngapain sih buku yang baru kuterima udah ditanyakan pula? Ustadz ini gimana sih? Takut bukunya hilang kubawa atau apa?”</p>
<p>“Lantas, apa yang beliau bicarakan dalam telpon?”</p>
<p>“Beliau nanya, dari buku-buku yang sudah dikirimkannya, mana yang aku pilih?”</p>
<p>“Sampean pilih yang mana?”</p>
<p>“Kusampaikan kalau aku memilih tiga judul diantaranya. Lantas aku bertanya pada ustadz, kurang berapa duitnya?”</p>
<p>“Apa jawabnya?”</p>
<p>“Sudahlah, Mbak Farida. Duit yang dititipkan saya dulu anggaplah cukup.”</p>
<p>“Lho, kan cuma lima puluh ribu, ustadz? Pasti harga ketiga buku itu jauh lebih besar dari duit yang saya titipkan.”</p>
<p>“Tak mengapa, Mbak. Saya anggap cukup. Saya hanya ingin memasuki Ramadan ini dengan plong, tanpa tanggungan.Rasanya nggak <em>khusyu</em>&#8216; menjalankan ibadah puasa sementara saya masih memiliki tanggungan amanah buku sama Mbak yang belum saya tunaikan. <em>Alhamdulillah</em>, sekarang tanggungan saya sudah lunas.”</p>
<p>***</p>
<p>Menjelang Ramadan ini banyak SMS bertebaran masuk ke ponsel kita. Tak sedikit pula email masuk ke <em>mailbox </em>kita. Semua berisi ucapan senada, yakni selamat menjalankan ibadah puasa, sepenggal doa, dan tak lupa meminta maaf atas segala <em>khilaf</em>. Banyak juga yang kreatif dengan menyusun kata-kata sedemikian indah.</p>
<p>Sejauh yang kita ketahui, praktis tidak ada tuntunan agama yang khusus menganjurkan hal demikian untuk menyambut Ramadan. Namun, adakah larangan untuk saling meminta maaf dan saling mendoakan satu dengan lain?</p>
<p>Seyogyanya hal demikian memang bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus menunggu momen tertentu. Ramadan misalnya. Namun, bagaimanapun Ramadan adalah bulan yang penuh hikmah, rahmat, dan ampunan. Bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur&#8217;an. Bulan yang di dalamnya ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Bahkan Rasulullah sendiri menganjurkan bersiap menyambut Ramadan jauh-jauh hari. Sejak Rajab, dua bulan sebelumnya. Beliau menganjurkan kita berdoa, “<em>Allaahumma baariklanaa fi rajab wa sya&#8217;bana, wa baalighnaa ramadlon</em>.”</p>
<p>Jika Ramadan adalah layaknya seorang kekasih yang datang setelah tak berjumpa hampir setahun lamanya, maka tak ada salahnya kita mempersiapkan penyambutan padanya. Dengan membuat plong hati kita sebelum memasukinya. Ada yang mengirim salam. Ada yang saling meminta maaf atas segala salah dan alpa. Ada yang saling mendoakan.</p>
<p>Dan ustadz Rofi&#8217;i memulakan Ramadan dengan caranya sendiri, yakni menyelesaikan seluruh tanggungan amanahnya yang masih mengganjal. Semua dilakukan semata hanya ingin menjumpai Sang Kekasih yang datang dengan sambutan yang terbaik.</p>
<p>***</p>
<p>Catatan Ramadan 1427H hari ke-2.<br />
Surabaya, 26 Sept 2006.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=29&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/sambutan-terbaik-buat-kekasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karachi.metblogs.com/archives/images/2006/09/ramadan-praying.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ia Yang Serupa Baja</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ia-yang-serupa-baja/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ia-yang-serupa-baja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 00:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ia-yang-serupa-baja/</guid>
		<description><![CDATA[: buat Dik Ida, ibu dari anak-anakku Pagi telah mengganti gelap. Sinar matahari menghangatkan kaca-kaca yang mengembun. Bis nyaman ini pun sudah berbelok menuju Kangar, ibukota Perlis, setelah semalaman menyusuri jalan tol mulus antara Johorbahru hingga wilayah paling utara Malaysia ini. Terminal bis Kangar masih sejam lagi. Begitu kata teman Melayu seperjalanan di sebelahku. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=28&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://suritauladan.files.wordpress.com/2007/07/di-depan-rmh-tn-haji-2.jpg?w=500" alt="" border="0">: buat Dik Ida, ibu dari anak-anakku</p>
<p>Pagi telah mengganti gelap. Sinar matahari menghangatkan kaca-kaca yang mengembun. Bis nyaman ini pun sudah berbelok menuju Kangar, ibukota Perlis, setelah semalaman menyusuri jalan tol mulus antara Johorbahru hingga wilayah paling utara Malaysia ini.</p>
<p>Terminal bis Kangar masih sejam lagi. Begitu kata teman Melayu seperjalanan di sebelahku. Dan sedikit waktu itu kumanfaatkan untuk menikmati sawah bertanamkan padi menghampar kekuningan siap panen di sepanjang jalan. Berselang-seling diantaranya ngarai, sungai, pohon-pohon hijau, rumah-rumah penduduk yang jarang-jarang. Juga orang-orang serumpun yang lalu-lalang. Pada kaki langit di kejauhan sana gunung membiru berdiri tegak di balik kabut tipis serupa uap air yang sedikit demi sedikit menghilang. Amboi! Damai yang terasa. Tenang yang kemudian tercipta menjelmakan rindu yang menyesakkan dada.</p>
<p>Seketika aku teringat pemandangan di desa tempat aku dilahirkan. Dulu.</p>
<p><em>Seketika aku ingat akan wajahmu.</em></p>
<p>Masih terasa perpisahan di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta sebulan yang lalu. Kau putuskan pergi mengembara ke ujung Malaysia untuk mengejar ilmu. Meski tanpa kawalan diriku.</p>
<p>“Aku berani,” katamu waktu itu. “Toh ada teman-teman seperjalanan dari Indonesia. <em>Akhwatnya </em>juga banyak.”</p>
<p>Bukan karena darah Madura mengalir di tubuhmu. Tetapi sejak mula berjumpamu, aku sudah tahu kalau tekad yang baja mengaliri urat nadimu. Ketika terapi yang kau pelajari di fakultasmu ternyata tidak menentramkan hatimu, kau gigih mencari terapi yang lain. Dan untuk itu, kau memburunya hingga ke Gunung Salak, Puncak Bogor, Jakarta. Juga ke perbatasan Malaysia-Thailand ini.</p>
<p>“Aku ingin menggali metode pengobatan Islam,” katamu suatu kali. “Jika sejarah Islam dulu pernah melahirkan orang sekelas Ibnu Sina, pastilah pengobatan Islam telah pernah mencapai kemajuan yang mengagumkan.”</p>
<p>Dan itulah dirimu. Jika keinginan sudah membulat, resiko apapun akan engkau tempuh. Batam – Pasir Gudang Malaysia pun kau seberangi. Pasir Gudang – Johorbahru – Kangar yang jaraknya lebih jauh dari perjalanan Banyuwangi – Merak pun kau susuri semalaman dengan menumpang bis. Bahkan dalam SMS-mu kau mengatakan, ketika melewati pemeriksaan di imigrasi Pasir Gudang Malaysia, kau dan rombongan harus menunggu diproses selama hampir 3 jam! Kalian dicurigai sebagai Jamaah Islamiyah, karena semua akhwatnya berkerudung dan sebagian besar ikhwannya berjenggot dan berpeci haji!</p>
<p>Lebih dari itu, sungguh aku tak bisa membayangkan bagaimana dirimu mengikuti kegiatan <em>Sijil </em>pengobatan <em>herbal </em>di negeri orang dengan membawa serta anak kita yang masih belum genap sepuluh bulan itu di gendongan.</p>
<p>“ASI adalah haknya, karena itulah makanan utamanya hingga 2 tahun,” katamu memberikan alasan mengapa Maura harus ikut bersamamu. “Jadi, ia harus ikut kemanapun kantong ASI itu pergi.”</p>
<p>Maka, sebulan penuh aku membayangkan bagaimana dirimu mengikuti perkuliahan dengan Maura tertidur di samping kursimu. Mungkin malah sedang menetek di pangkuanmu, sementara dirimu tengah asyik mencatat atau menyalin mutiara ilmu. Ia barangkali justru mengajak bercanda, ketika dirimu tengah menyiapkan paparan atau menikmati gizi sebuah buku. Mungkin dirimu masih harus menemaninya hingga tertidur di suatu malam, sementara tugas untuk esok hari belum sempat tersentuh menumpuk di mejamu. Aku yakin dirimu juga harus bangun paling pagi, karena cucianmu pasti tiga kali lipat lebih banyak dibanding peserta yang lain.</p>
<p>Membayangkan ini semua membuatku merasa tidak ada apa-apanya, meski harus mengurus Ais dan Fia &#8212; kakak-kakak Maura di rumah &#8212; yang seketika menderita panas-dingin karena stress semenjak lambaian tanganmu di Juanda pada hari pertama kau pergi. Hampir dua minggu panas tubuh mereka naik-turun. Dan hampir tiap saat ia menanyakanmu: kemana ibu pergi dan kapan akan kembali?</p>
<p><em>Mereka kehilangan bagian dari ibunya yang tak bisa digantikan begitu saja oleh ayahnya.</em></p>
<p>Ketika tiba di terminal bis Kangar, hatiku <em>dag-dig-dug </em>seperti ketika pertama kali berjumpa dirimu di RS Syaiful Anwar Malang kala itu. Dan rindu yang membuncah ini seketika seperti terobati ketika melihatmu menjemputku di pintu keluar terminal. Dengan Maura di gendongan. Dengan senyummu yang termanis yang pernah kulihat.</p>
<p>Kuperhatikan dirimu tampak gembira. Maura juga sehat-sehat saja, meski ia seperti asing dengan ayahnya setelah berpisah sebulan.</p>
<p>“Aku kerasan tinggal di sini,” katamu singkat, tetapi menjelaskan segalanya. “Daerahnya tenang, orangnya ramah, lingkungannya masih asli dan sehat. Nyaman. Hampir tak ada kejahatan. Bahkan ibu-ibu berani menyetir mobil di malam hari tanpa takut celaka.”</p>
<p>Aku manggut-manggut tanda mengerti. Rupanya ia sedang jatuh cinta dengan negeri ini.</p>
<p>“Sungguh berbeza dibandingkan Surabaya,” katamu menggunakan kosa-kata orang Melayu.</p>
<p>“Bagaimana kalau kita tinggal di sini?” tanyaku memancing.</p>
<p>“Mau!” jawabmu seketika seperti anak kecil ditawari jalan-jalan. “Mau sekali! Bahkan sampean sama Tuan Haji Ismail sudah disiapkan pekerjaan, lho Mas!”</p>
<p>“Ha? Yang bener aja?”</p>
<p>***</p>
<p>Ternyata apa yang kubayangkan benar. Lima hari menemanimu mengikut Sijil membuatku tak habis pikir. Bagaimana dirimu bisa mengikuti semua ini?</p>
<p>Pagi sekali sebelum yang lain bangun, dirimu sudah mulai mencuci. Bajumu, baju Maura. Sekarang ditambah bajuku. Kemudian shalat Shubuh berjamaah di mushala Tuan Haji Ismail dan dzikir Al-Ma&#8217;tsurat hingga menjelang matahari terbit. Mandi, memandikan Maura, dan kemudian bersiap berangkat ke <em>kolej </em>tempat Sijil diselenggarakan.</p>
<p>Kegiatan Sijil dimulai dengan sarapan pagi bersama-sama. Acara biasa berlangsung sampai malam. Bahkan kadang sampai larut, terutama ketika menyiapkan paparan di setiap hari Sabtu. Kuperhatikan dirimu merupakan peserta paling sibuk diantara yang lain. Betapa tidak? Ada bayi sepuluh bulan berada di sampingmu. Ia sedang aktif-aktifnya bergerak. Bahkan ia sudah bisa merangkak sekarang. (Aha! Dia belajar merangkak di Malaysia!)</p>
<p>Ketika perkuliahan berlangsung, Maura punya agenda sendiri. Ia akan merangkak di sela-sela kursi peserta. Kau tentu harus membagi perhatianmu padanya. Jika ia mulai jauh, mengganggu, atau pada posisi yang mengkhawatirkan, kau akan memindahkannya ke dekat kakimu lagi. Kau juga akan menjangkaunya dan menetekinya jika ia menangis. Kau akan menggendongnya ketika rewel karena mengantuk, sambil tetap mengikuti perkuliahan. Kau akan mengganti popoknya jika ia pipis atau eek. Dan ketika istirahat tiba, sembari makan atau menyantap makanan kecil, kau gunakan kesempatan itu untuk menetekinya, menidurkannya, mengganti bajunya, atau mengajaknya bercanda sebagai bagian dari haknya.</p>
<p>Di situasi yang demikian itu, kau masih sempat menjawab pertanyaan beberapa orang dan memberikan penjelasan. Karena ternyata dirimu di Sijil ini menjadi seperti pepatah lubuk akal tepian ilmu. Tempat bertanya orang. Dan kebetulan memang dirimu adalah satu-satunya peserta dari kalangan medis.</p>
<p>Lima hari aku menemanimu. Lima hari aku memperhatikanmu. Lima hari aku semakin yakin, kalau tidak karena memiliki <em>azam </em>yang kuat dan tekad yang baja, tak akan dirimu sampai ke tempat ini. Tak akan dirimu membawa serta Maura dalam dekapan. Tak akan dirimu bersusah-payah mengkaji berbagai ilmu pengobatan seperti berbagai tanaman berkasiat obat (herbal), berbagai teknik diagnosa (telapak tangan, <em>iridologi</em>, lidah, nadi), berbagai teknik terapi (<em>al-hijamah</em> atau bekam, herbal, <em>chiropraktik</em>, <em>akupunctur</em>). Tak akan dirimu tahan membuka ratusan buku di perpustakaan rumah Tuan Haji maupun perpustakaan Kolej Perubatan Jawi itu (dan tak heran jika oleh-olehmu terbanyak ketika pulang tak lain adalah buku!)</p>
<p>Lima hari itu semakin meneguhkan diriku, bahwa sungguh aku tak salah telah memilihmu menjadi ibu dari anak-anakku.</p>
<p>Tentu saja dirimu memiliki kelemahan dan kekurangan. Tetapi terus terang, jika tentang tekad, aku banyak belajar dari dirimu. Dan aku rela, jika itu kau tularkan pada Ais, Fia, Maura, dan juga jagoan kita, Azril yang Allah menganugerahkannya buat kita kini.</p>
<p>Aku ingin mereka memiliki azam yang kuat dan tekad yang baja.</p>
<p>Seperti ibunya.</p>
<p>***</p>
<p>Surabaya, 7 Agustus 2006.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=28&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/05/ia-yang-serupa-baja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suritauladan.files.wordpress.com/2007/07/di-depan-rmh-tn-haji-2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rencana Ramadan Pak Gaul</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/rencana-ramadan-pak-gaul/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/rencana-ramadan-pak-gaul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 15:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/rencana-ramadan-pak-gaul/</guid>
		<description><![CDATA[Siang terik menyengat seperti lidah-lidah api. Daun kecoklatan berguguran di terpa angin musim kemarau yang kering. Kemarau yang aneh, karena sesekali hujan meningkahi barang satu dua kali dalam dua minggu. Setidaknya mendung memayung bergelayut di langit, menjadikan panasnya meningkat serupa bara api dari batok kelapa yang diletakkan tepat di ubun-ubun. Namun untunglah kami memiliki seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=26&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://www.gimonca.com/indonesia/pics/bakso.jpg" alt="" border="0">Siang terik menyengat seperti lidah-lidah api. Daun kecoklatan berguguran di terpa angin musim kemarau yang kering. Kemarau yang aneh, karena sesekali hujan meningkahi barang satu dua kali dalam dua minggu. Setidaknya mendung memayung bergelayut di langit, menjadikan panasnya meningkat serupa bara api dari batok kelapa yang diletakkan tepat di ubun-ubun.</p>
<p>Namun untunglah kami memiliki seorang dewa penolong. Pak Gaul namanya. Aku bahkan tidak tahu siapa nama dia sebenarnya. Ia akan datang di saat yang genting itu dari ujung gang, kemudian lewat depan rumah. Suara teng-teng dari alat musik yang dia mainkan seperti bedug Maghrib yang mengundang orang untuk keluar menuju masjid. Tetapi, teng-teng Pak Gaul akan membuat seisi gang tempat tinggalku berhamburan keluar rumah dengan mangkok di tangan. Mereka akan rela antri untuk mendapatkan semangkok bakso lezat, yang akan mengobati kering tenggorokan, laksana manna dan salwa yang membuat Bani Israel tidak akan lapar selamanya.</p>
<p>Bakso Pak Gaul adalah bakso langganan seisi gang kami, bahkan seluruh komplek perumahan ini. Baksonya lezat, dijamin halal, bebas <em>formalin</em>, <em>borax</em>, dan campuran tikus. Rasanya menyantapnya setiap hari tak akan membuat bosan sedikitpun. Es kelapa mudanya juga ditanggung sedap dengan <em>degan </em>yang masih segar.</p>
<p>Saat ini bulan Sya&#8217;ban telah tiba. Dan siang itu, Pak Gaul telah berhenti di depan rumah. Kami memesan bakso dan degan segarnya.</p>
<p>“Ramadhan nanti tetap jualan, kan, Pak?” tanya istriku. Berbuka dengan bakso dan es degan Pak Gaul rasanya akan membuat dahaga seharian sirna seketika.</p>
<p>“Ya, itulah masalahnya, Bu,” jawab Pak Gaul sambil mengupas sebutir kelapa muda.</p>
<p>“Apa masalahnya, Pak?” tanya ibunya anak-anak lebih lanjut.</p>
<p>“Kalau saya jualan siang hari, kan nggak enak?” kata tukang bakso itu. Setelah menuang air kelapa, ia kini menyerut daging kelapa muda dan memasukkannya ke dalam mangkok. “Malu, Bu! Orang-orang pada puasa, saya malah jualan makanan siang-siang.”</p>
<p>“Ya jualannya jangan siang, Pak. Sore saja menjelang orang berbuka.”</p>
<p>“Kalau sore hari pas orang berbuka, saya mesti lari-lari kalau mau shalat setelah melayani orang-orang beli bakso. Kadang saya terpaksa shalat di pos satpam, mushala, numpang di rumah orang. Terburu-buru lagi. Sama sekali nggak enak, Bu.”</p>
<p>“Ya juga sih. Lantas rencana Pak Gaul Ramadhan nanti apa?”</p>
<p>Laki-laki itu sejenak seperti berpikir. Tak lama sambil menyerahkan kelapa muda pesanan kami ia menjawab. “Saya rencana prei* nggak jualan dulu, Bu.”</p>
<p>“Lho, pasti banyak yang protes tuh Pak!”</p>
<p>“Saya tahu, Bu,” sahut lelaki itu. Ia kini menyiapkan dua mangkok bakso pesanan kami. “Langganan saya di kampung sebelah malah bilang, kalau saya nggak jualan saat Ramadhan nggak bakal dapat sangu lebaran, lho! Begitu katanya.”</p>
<p>“Benar tuh, Pak! Memangnya Pak Gaul nggak bakal kerja apa-apa selama Ramadhan?”</p>
<p>“Ya, nggak sih, Bu,” Pak Gaul tersenyum. Ia lalu mengambil kuah bakso dari panci besar di rombongnya. Asap mengepul dengan aroma yang membuat air liur membanjir. “Saya rencana nanti mengantar anak-anak sekolah. Ada langganan di perumahan sebelah yang menawari saya mengantarkan anak-anaknya. Jadi, saya bisa mengantar mereka pagi dan menjemput pulang siang hari.”</p>
<p>Dua buah mangkok kini berpindah tangan.</p>
<p>“Lha, penghasilannya kan tetap berkurang dong, Pak?”</p>
<p>“Ya, nggak apa-apa, Bu,” sahut Pak Gaul tersenyum sambil menerima uang dari istriku dan menyerahkan kembaliannya. “Meskipun penghasilan lebih sedikit, tetapi kan saya bisa lebih konsentrasi dalam beribadah di bulan Ramadhan nanti.”</p>
<p>“Wah, kalau memang rencananya seperti itu, kami dukung, Pak!”</p>
<p>***</p>
<p>Usia kita telah berbilang tahun. Telah berpuluh kali Ramadhan datang dan pergi dari kehidupan kita. Tetapi, saya yakin, seyakin-yakinnya bahwa kita tidak pernah mempersiapkan kedatangan bulan yang mulia itu dengan sebaik-baik menyambut tamu istimewa. Ia telah datang dan pergi dari sisi kita dengan begitu saja. Ia telah berulang kali menjadi bagian hidup kita, menjadi momen paling krusial untuk melebur dosa yang ada dan menjadikan kita serupa bayi kembali. Tetapi, kesempatan demi kesempatan itu seperti lewat sekadar kita jalani sebagai rutinitas belaka. Akibatnya, sebagaimana air di daun talas, ia tak memberi bekas mendalam dalam diri kita. Bukan apa. Itu semua karena kita sendirilah yang telah mengabaikannya begitu rupa.</p>
<p>Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa bergembira saja terhadap datangnya Ramadhan, tamu istimewa itu, Allah SWT mengharamkan jasad kita terjilat api neraka. Apalagi jika kita bisa menyikapinya lebih dari sekadar &#8216;bergembira&#8217;.</p>
<p>Jadi, apa rencana Anda pada bulan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi?</p>
<p>Apakah Anda akan mengurangi jam kerja, dari 8 jam menjadi 5 jam sehari, dari 6 hari kerja menjadi 4-5 hari saja? Apakah Anda akan meliburkan diri dari shift malam? Apakah Anda tak berniat lembur lagi selama sebulan? Apakah Anda akan berpindah atau berganti pekerjaan yang lebih ringan sehingga tak mengantuk ketika <em>Tarawih</em>? Ataukah Anda akan mengalihkan pekerjaan di kantor untuk dikerjakan di rumah saja? Apakah Anda akan mengajukan cuti pada 10 hari terakhir, 20 hari terakhir, atau kalau perlu, sebulan penuh untuk tidak bekerja?</p>
<p>Jika tak ada yang kita lakukan untuk menyambut Ramadhan kecuali hanya sekadar merasa gembira saja – dan untuk itu sangatlah mudah – maka sungguh kita kalah dengan Pak Gaul, tukang bakso yang biasa lewat di depan rumah kami. Ia, yang begitu sederhana itu, rela tidak berjualan bakso yang larisnya minta ampun selama bulan Ramadhan – dan untuk itu ia akan kehilangan penghasilan bakso sebulan. Ia rela berganti pekerjaan hanya untuk antar-jemput anak-anak sekolah. Itu semua semata-mata agar ia bisa berkonsentrasi melakukan ibadah selama Ramadhan.</p>
<p>Betapa pikiran yang begitu sederhana, bukan? Tetapi yang sederhana itu sebenarnya bermakna sangat dalam: Pak Gaul telah melampaui batas “sekadar gembira” saja menyongsong bulan penuh berkah ini. Ia telah menyambut Ramadhan, tamu agung itu, tak sekadar dengan sesungging senyum, hati berbunga, atau persiapan yang ala kadarnya. Ia telah menyambut Ramadan dengan segenap cintanya yang sederhana; yang pada kenyataannya sungguh tidaklah sederhana.</p>
<p>Untuk rencananya itulah, kami tak perlu merasa kehilangan jika ia tak akan muncul di ujung gang dengan <em>teng-teng</em>-nya yang membahana selama sebulan penuh. Kami rela &#8216;puasa&#8217; menyantap bakso Pak Gaul selama Ramadhan, karena kami tahu ia ingin menjamu tamu istimewa ini dengan <em>among-tamu</em>** yang istimewa pula.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah punya rencana Ramadhan seperti Pak Gaul?</p>
<p>***</p>
<p>Ket.<br />
* prei = libur (jawa)<br />
** among-tamu = penyambutan dan penerimaan tamu (jawa)</p>
<p>Surabaya, 30 Juli 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=26&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/rencana-ramadan-pak-gaul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gimonca.com/indonesia/pics/bakso.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Beratnya Sebuah Kehilangan</title>
		<link>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/beratnya-sebuah-kehilangan/</link>
		<comments>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/beratnya-sebuah-kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 15:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kedermawanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/beratnya-sebuah-kehilangan/</guid>
		<description><![CDATA[: Buat Dedy, kawanku seiring seperjalanan Pagi ini, di perempatan Cempaka Putih. Aku di belakang kemudi Xenia biru, yang biasa dikemudikan Dedy menyusuri Jakarta. Lampu sedang merah. Dan aku berhenti mengantri. Beberapa pedagang asongan datang dan pergi. Tak berapa lama, seorang anak perempuan datang ke pintu kaca mobilku. Usianya paling sekitar kelas 4 SD. Anaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=25&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;width:150px;height:200px;margin:0 15px 15px 0;" src="http://gis.bmg.go.id/gempabumi_aceh/55055.jpg" alt="" border="0">: Buat Dedy, kawanku seiring seperjalanan</p>
<p>Pagi ini, di perempatan Cempaka Putih. Aku di belakang kemudi Xenia biru, yang biasa dikemudikan Dedy menyusuri Jakarta. Lampu sedang merah. Dan aku berhenti mengantri.</p>
<p>Beberapa pedagang asongan datang dan pergi. Tak berapa lama, seorang anak perempuan datang ke pintu kaca mobilku. Usianya paling sekitar kelas 4 SD. Anaknya agak gemuk, <em>tembem</em>, kulit sawo matang. Hari ini ia memakai batik hijau kembang yang sederhana. Biasanya setelah kaca dibuka, ia akan menengadahkan tangan sambil berkata, “Buat bayar SPP, Om.” Atau, “Buat beli buku, Om.” Dan sekali waktu, “Buat beli seragam sekolah, Om.” Semuanya pasti berhubungan dengan sekolahnya.</p>
<p>Dan seperti biasa, pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, dulu, Dedy pasti memberinya sebagian yang ia punya. Entah 500 atau 1.000. Kadang sepotong Sari Roti atau kue yang lain. Atau mungkin bisa lebih dari itu, ketika sedang tidak bersamaku. Aku tak tahu. “Mumpung masih bisa, Mas,” katanya beralasan (baca: Aji Mumpung Dedy di edisi sebelumnya)</p>
<p>Tetapi, satu hal yang kuingat, bahwa anak perempuan itu hampir-hampir pasti selalu menghampiri kami jika berhenti di perempatan ramai ini. Dan ia pasti mendapatkan sesuatu dari Dedy. Karenanya, kami sudah sangat hapal dengan dirinya, dan dirinya juga sudah sangat hapal dengan kami. Mungkin lebih tepatnya dengan Dedy, karena dialah yang hampir tiap hari melintas di jalan ini. Dan dialah yang selalu mengulur tangan pada gadis itu.</p>
<p>Ia sudah berdiri di jendela. Aku membukanya sambil meraba kotak Doraemon Dedy. Di sana harta karunnya masih bertumpuk segenggaman tangan. Kuangsurkan sekeping logam pada anak itu.</p>
<p>Setelah menerima uang itu, ia <em>celingukan</em>, dan tanpa <em>dinyana</em>, langsung berkomentar, “Lho, Masnya kok nggak ada?”</p>
<p>Seketika aku merasakan kehilangan yang sangat pada kata-katanya itu. Kehilangan seseorang yang bagi anak itu mungkin begitu dekat, karena hampir setiap hari ketika melintas di perempatan ini, ia mendapatkan uluran tangan darinya entah dalam bentuk sesederhana apapun.</p>
<p>Lalu beberapa orang yang lain, peminta, pembersih kaca mobil, yang juga kerap mendapat sesuatu dari Dedy menghampiri jendela yang sama. Aku mengambil harta karun Dedy dan kemudian mengangsurkannya kepada mereka.</p>
<p>Ah, betapa berat rasanya kehilangan seseorang yang begitu baik seperti Dedy. Ia, orang baik itu, sudah kembali ke kampung halamannya di Malang sejak seminggu yang lalu.</p>
<p>***</p>
<p>Di sudut pasar kota Madinah pernah ada seorang pengemis Yahudi. Ia buta. Ia hanya menggantungkan hidupnya pada orang yang mau memberinya makan. Dan setiap kali ada seseorang yang datang mendekatinya, ia selalu berkata, “Wahai saudaraku. Jangan dekati Muhammad! Dia itu orang gila, pembohong. Tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, kalian pasti akan terkena pengaruhnya!”</p>
<p>Namun, setiap hari justru Rasulullah SAW mendatanginya. Beliau membawa makanan dengan tangannya sendiri. Dan lebih dari itu, tanpa berkata sepatah pun, beliau menyuapi pengemis Yahudi buta itu dengan makanan yang beliau bawa. Beliau pun tak luput mendapatkan pesan yang sama dari pengemis itu sebagaimana disampaikan kepada sekalian orang.</p>
<p>Hal demikian dilakukan Rasulullah hingga menjelang beliau wafat. Dan tentu saja, ketika beliau tiada, maka tidak ada lagi orang yang datang kepada pengemis Yahudi itu dan menyuapinya makanan sebagaimana biasanya.</p>
<p>Suatu hari, Abu Bakar ra datang kepada &#8216;Aisyah ra, anaknya yang istri tercinta Rasulullah. Ia bertanya, “Wahai anakku. Adakah sunnah kekasihku Muhammad yang belum aku kerjakan?”</p>
<p>“Wahai Ayah. Engkau adalah ahli sunnah Rasulullah,” jawab &#8216;Aisyah. “Hampir tak ada <em>sunnah </em>Rasulullah yang belum engkau kerjakan kecuali satu hal saja.”</p>
<p>“Sunnah apakah itu, anakku?” tanya Abu Bakar penasaran.</p>
<p>“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu berkunjung ke sudut pasar Madinah,” terang &#8216;Aisyah. “Beliau membawakan makanan untuk menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana.”</p>
<p>Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke sudut pasar Madinah. Ia membawa makanan di tangan. Ketika ia tanpa berkata sepatah pun mulai menyuapinya, Yahudi buta itu pun berteriak marah.</p>
<p>“Siapakah kau?” tanyanya ketus.</p>
<p>“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar.</p>
<p>“Bukan!” sergah si Yahudi. “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.”</p>
<p>Abu Bakar termangu.</p>
<p>“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan mulut ini mengunyah,” lanjutnya pada Abu Bakar. “Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku dengan lembut.”</p>
<p>Abu Bakar tak kuasa menahan bulir air di matanya. Ia pun sesenggukan. “Ya, <em>kisanak</em>. Memang aku bukanlah orang yang biasa datang kepadamu. Aku hanyalah salah seorang sahabatnya. Dan orang yang mulia itu kini telah tiada.”</p>
<p>“O, ya? Siapakah dia? Siapa dia sebenarnya?”</p>
<p>“Dialah Muhammad Rasulullah SAW.”</p>
<p>“Muhammad? Benarkah demikian?”</p>
<p>Abu Bakar mengiyakan.</p>
<p>Pengemis Yahudi buta itupun akhirnya juga sesenggukan. “Oh, selama ini aku telah menghinanya. Memfitnahnya. Dan ia tidak pernah marah padaku sedikitpun. Ia mendatangiku setiap hari dengan membawa makanan. Ia menyuapiku dengan tangannya. Ia begitu mulia &#8230;.”</p>
<p>Lelaki itu merasakan betapa beratnya sebuah kehilangan. Kehilangan orang yang setiap hari ia hinakan, yang justru telah membawakan makanan buatnya dan menyuapinya dengan segala kelembutannya. Setiap hari &#8230; hingga wafatnya.</p>
<p>Ia pun lalu <em>bersyahadat </em>di depan Abu Bakar.</p>
<p>***</p>
<p>Singkat saja. Hidup cuma sekali dan tak bisa terulang lagi. Kenapa pula kita tidak berusaha menjadi orang yang jika tiada kelak banyak orang merasakan kehilangan yang sangat? Seperti Abu Bakar dan pengemis Yahudi itu kehilangan Rasulullah. Dan pada level yang sederhana, seperti diriku, gadis itu, para pengasong, pembersih kaca mobil di perempatan jalan Cempaka Putih kehilangan seorang Dedy.</p>
<p>Selamat jalan Dedy. Selamat jalan kawan. Aku yakin, di tempat lain, dirimu sedang membuat jejak yang sama. Agar kepergianmu kelak dari tempat itu pun akan membuat berat mereka yang kau tinggalkan.</p>
<p>***</p>
<p>Surabaya, 20 Juli 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suritauladan.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suritauladan.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suritauladan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suritauladan.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suritauladan.wordpress.com&amp;blog=1296555&amp;post=25&amp;subd=suritauladan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suritauladan.wordpress.com/2007/07/04/beratnya-sebuah-kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gis.bmg.go.id/gempabumi_aceh/55055.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
